Agenda rutin SMAIT Insan Madani dalam rangka mempererat jalinan silaturahmi antara sekolah dan orangtua siswa ialah pengajian orangtua yang secara rutin dilaksanakan setiap bulannya. Pengajian pertama diawal tahun 2026 ini diisi oleh pemateri Internal sekolah yaitu Ustad Yushar Kahar Lamboka, S.Pd.I., M.Pd.I..
Selain pengajian orangtua, di akhir sesi terdapat pula sosialisasi tata tertib sekolah kepada orangtua siswa yang disampaikan Wakasek Kesiswaan Ustad Irwan, S.Pd.. Hal ini dilakukan karena pada akhir 2025 lalu, Yayasan Nurul Islam Palopo (YANIPA) telah menggelar Lokakarya bersama 3 unit sekolah dibawah naungannya untuk merumuskan pembaharuan aturan-aturan.
Agenda pengajian ini, dipandu oleh Ustad Ananda Rezky Wibowo, S.Sos., M.Hum., Gr. selaku pembawa acara, Ustad Waldi Puja, S.Pd., Gr., sebagai pembaca ayat suci al-Qur’an dan Ustad Ansar, S.Kom., Gr., sebagai pembaca do’a.
Tema yang diusung pada pengajian kali ini yaitu: “Anak adalah Amanah Allah: Mengurusnya dengan Iman dan Ilmu”. Rangkuman sederhana dari isi pengajian ini setidaknya menjelaskan bahwa terdapat 4 posisi anak dalam al-qur’an, diantaranya:

- Anak sebagai penenang hati, penyejuk jiwa:
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. al-Furqan: 74).
Para ulama tafsir menyebutkan, dalam ayat di atas adalah anak-anak yang saleh, taat kepada Allah, berbakti kepada orang tua, bermanfaat bagi sesama. - Anak sebagai perhiasan dunia:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” (QS. Al-Kahfi: 46).
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (QS. Ali ‘Imran: 14).
Anak merupakan nikmat dan keindahan kehidupan dunia yang dapat membahagiakan hati. Namun, perhiasan ini bersifat sementara dan tidak boleh melalaikan dari mengingat Allah. - Anak sebagai fitnah atau ujian:
Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar (QS. At-Taghabun: 15).
Kehadiran anak dapat menjadi ujian keimanan, kesabaran, dan ketaatan orang tua. Ujian ini bisa berupa rasa cinta berlebihan yang melalaikan kewajiban kepada Allah.

4. Anak menjadi musuh:
Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS At-Taghabun: 14).
Dalam kondisi tertentu, anak dapat menjadi penyebab seseorang menjauh dari ketaatan kepada Allah, bukan karena anak itu sendiri, tetapi karena sikap orang tua yang salah dalam menyikapinya.
Al-Qur’an menggambarkan anak sebagai nikmat sekaligus ujian. Oleh karena itu, orang tua dituntut untuk mengelola amanah ini dengan iman dan ilmu agar anak menjadi penyejuk hati, bukan sumber kelalaian.

Anak adalah amanah dari Allah yang dititipkan kepada orang tua untuk dijaga, dibimbing, dan dididik dengan penuh tanggung jawab. Mengurus anak tidak hanya sebatas memenuhi kebutuhan fisik, tetapi juga menanamkan iman sebagai fondasi akhlak dan membekali mereka dengan ilmu sebagai bekal kehidupan. Dengan iman, anak tumbuh memiliki nilai, moral, dan kesadaran akan tanggung jawab kepada Allah. Dengan ilmu, mereka mampu menghadapi tantangan zaman secara bijaksana dan bermanfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, keberhasilan orang tua bukan hanya diukur dari prestasi duniawi anak, tetapi dari terbentuknya pribadi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Penulis: Ananda Rezky Wibowo